Senin, 08 November 2010

BAHASA JAWA DALAM MASYARAKAT JAWA ( Sebuah Tinjauan Umum )


PENDAHULUAN

          Berbicara masalah bahasa Jawa dalam masyarakat Jawa, maka ada dua konteks yang bisa dikemukakan. Konteks pertama ketika bahasa Jawa dihadapkan pada situasi non formal / keseharian. Dalam konteks ini kebanyakan dari kita akan menganggap bahwa bahasa Jawa sebagai sesuatu hal yang lumrah / biasa. Artinya bahasa tersebut sudah sangat familiar karena merupakan bahasa ibu dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Akan tetapi manakala dihadapkan pada situasi formal / pembelajaran, maka tidak sedikit dari kita akan menganggap bahwa bahasa Jawa sebagai sesuatu yang luar biasa atau bahkan asing. Tidak saja bagi awam, bagi kalangan pendidik pun tidak sedikit yang mempunyai anggapan demikian. Ya, bahasa Jawa sudah sering menjadi perbicangan di ranah formal maupun non formal yang tentu saja terkait dengan kondisi bahasa Jawa itu sendiri yang dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan jumlah pemakaian, terutama di kalangan muda. Benarkah demikian ?
          Di wilayah karesidenan Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama yang tinggal di daerah Solo, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Gunung Kidul, Bantul, Sleman, dan sekitarnya masih dapat dijumpai para penutur asli bahasa Jawa, dalam arti menguasai bahasa ngoko maupun karma dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Namun tidak sedikit pula yang mulai meninggalkan bahasa Jawa, terutama bagi mereka yang sekolah / kuliah di luar kota dan bagi mereka golongan perantau. Bagi mereka yang sekolah / kuliah di luar kota, khususnya kota-kota besar seperti : Semarang, Jogja, Bandung, Jakarta, Surabaya atau Medan, tentu saja prosentase terbesar yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa Indonesia. Juga bagi para perantau yang kemudian mendapatkan jodoh di kota tempat merantau, kelak setelah mereka berkeluarga cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi di keluarganya.
          Belum lagi kalau kita tengok prestasi belajar bahasa Jawa para pelajar akan kita dapati fenomena yang cukup signifikan dimana nilai rata-rata untuk bahasa Jawa masih kalah jauh dibanding nilai untuk bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dan ini terjadi di semua tingkat pendidikan mulai SD, SMP, hingga SMA. Sebuah penelitian terhadap mahasiswa PS Jawa FIB UI angkatan 2005 – 2007 menunjukkan bahwa 60% orang tua berasal dari suku Jawa, 35% non Jawa, dan 15% campuran. Dari prosentase tersebut didapati fakta bahwa hanya 15% mahasiswa yang menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi di rumah / keluarganya. Sementara 80% menggunakan bahasa Indonesia dan 5% menggunakan bahasa lain. Kemudian dari buku yang membahas bahasa, sastra serta kebudayaan Jawa justru banyak ditulis oleh penulis asing ketimbang orang Jawa sendiri. Ironisnya buku mereka selalu dijadikan acuan oleh banyak sarjana di Indonesia ketika mereka ingin menyelami lebih dalam tentang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.
          Selain itu derasnya pengaruh arus globalisasi di segala sector kehidupan juga dianggap menjadi pemicu menurunnya pemakaian bahasa Jawa di masyaakat Jawa. Kalangan muda tidak bisa / tidak mau berbahasa Jawa krama lagi, padahal sebagian besar orang percaya bahwa pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa mencerminkan sopan santun dan budi pekerti. Mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul yang dianggap lebih “modern”. Kemudian adanya anggapan negative dari sebagian masyarakat terhadap bahasa daerah. Mereka beranggapan bahwa (1) bahasa daerah adalah sesuatu yang kuno, berasal dari masa lampau; (2) bahasa daerah tidak berguna di luar daerahnya; (3) bahasa daerah merupakan bahasa orang miskin dan tidak berpendidikan; (4) bahasa daerah menghalangi proses belajar dan menjadi orang pintar; (5) bahasa daerah menghalangi kemajuan; (6) bahasa daerah lambang keterbelakangan; (7) bahasa daerah tidak bergengsi.
Kondisi – kondisi tersebut di atas tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena fakta menunjukkan bahwa di muka bumi ini 6 – 10 bahasa etnis hilang setiap tahunnya. Apakah kita rela bahasa Jawa mengikuti jejak mereka ?



FAKTA – FAKTA PENDORONG PELESTARIAN BAHASA JAWA

          Kiranya kita perlu melihat fakta mengapa bahasa Jawa menjadi wajib untuk dilestarikan dan dikembangkan. Terlalu besar resiko yang dipertaruhkan apabila kita membiarkan bahasa Jawa ditinggalkan oleh para penuturnya. Fakta – fakta tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Dalam kaitannya dengan kedudukan bahasa Jawa dalam pemetaan bahasa secara internasional menunjukkan bahwa dari 6.809 bahasa di dunia, Indonesia menempati urutan kedua dalam hal jumlah bahasa (731 bahasa di Indonesia). Urutan pertama ditempati oleh Papua Nugini (867 bahasa). Adapun urutan terbanyak dalam hal penutur ditempati oleh bahasa Mandarin (Cina) dengan sekitar 885.000.000 penutur, urutan kedua ditempati oleh bahasa Spanyol dengan 332.000.000 penutur, dan ketiga ditempati oleh bahasa Inggris dengan 332.000.000 penutur. Bahasa Jawa menempati urutan ke-11 dengan 75.500.000 penutur, bahasa Sunda di urutan ke-34 dengan 27.000.000 penutur, bahasa Melayu di urutan ke-54 dengan 17.600.000 penutur, bahasa Indonesia di urutan ke-56 dengan 17.050.000 penutur dan bahasa Madura menempati urutan ke-69 dengan 13.694.000 penutur.

  1. Secara nasional bahasa Jawa menempati urutan pertama dalam hal jumlah penutur. Urutan kedua bahasa Sunda, dan berturut-turut ; bahasa Madura, bahasa Minangkabau, bahasa Bugis, bahasa Batak, bahasa Banjar, dan bahasa Bali.

  1. Bahasa-bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa tentunya, justru merupakan hulu serta hilir dari perkembangan sastra serta budaya Indonesia pada masa mendatang. Dikatakan hulu, karena sastra, bahasa, serta budaya daerah merupakan sumber serta pendukung perkembangan sastra, bahasa, serta budaya nasional kita. Sastra daerah memperkaya wacana sastra Indonesia, bahasa daerah memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sedangkan budaya daerah menyokong budaya nasional yang kesemuanya itu membentuk sebuah karakteristik serta kekhasan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Hal yang tidak akan ditemui di belahan bumi manapun selain Indonesia. Sementara dikatakan hilir karena pada akhirnya kesemuanya itu akan bermuara pada satu tempat yang sama yaitu identitas ke-Indonesiaan.

  1. Bahasa Jawa banyak mendapatkan perhatian para ahli bahasa dari luar negeri sebagai bahan penelitian karena bahasa Jawa memiliki karakteristik yang unik dan mengandung nilai-nilai filosofis tinggi. Selain itu bahasa Jawa juga dipelajari banyak pelajar dan mahasiswa di Eropa, Australia, dan bahkan Amerika.

Dari sedikit fakta di atas menunjukkan bahwa bahasa Jawa ternyata memiliki “bargaining position” yang cukup kuat untuk tetap survive dan bahkan semakin berkembang lagi. Sebagai “manusia Jawa” seharusnya bangga dan tergerak hatinya untuk selalu “nguri-uri” bahasa Jawa. Tinggal bagaimana upaya semua pihak terkait dalam ikut mendorong bagi tetap terjaganya kelestarian bahasa dan budaya Jawa dimaksud.


UPAYA PELESTARIAN BAHASA JAWA

     Usaha pemerintah dalam memajukan dan mengembangkan bahasa dan budaya daerah terus diupayakan. Hal ini terbukti dengan diberlakukannya Undang – Undang nomor : 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan diberlakukannya UU tersebut maka kewenangan Pemerintah Pusat di bidang bahasa dan sastra daerah telah menjadi kewenangan dan tanggung jawab daerah, dengan demikian diharapkan Bahasa dan Sastra Daerah dapat dilestarikan dan dikembangkan untuk memperkaya khasanah budaya Nasional.
          Pelaksanaan Konggres Bahasa Jawa III di Yogyakarta menelurkan gagasan arti pentingnya pembelajaran bahasa Jawa di tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA, serta mengamanatkan agar pelajaran bahasa Jawa dimasukkan sebagai kurikulum muatan local di tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA. Melalui rekomendasi dari hasil putusan Konggres Bahasa Jawa III inilah maka Gubernur Jawa Tengah ( waktu itu Bpk. Mardiyanto ) mengeluarkan SK Gubernur No.895.5/01/2005 tertanggal 23 Februari 2005 yang isinya penetapan dan pengesahan Kurikulum 2004 mata pelajaran bahasa Jawa serta bahasa Jawa wajib diajarkan di sekolah untuk tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA di Jawa Tengah.
          Dengan adanya SK tersebut geliat pemakaian bahasa Jawa semakin menunjukkan gairahnya. Di kota Semarang semua instansi pemerintah diwajibkan menggunakan bahasa Jawa setiap hari Kamis. Di kabupaten Kulonprogo pegawai pemerintah tingkat kabupaten hingga desa, bahkan sekolah, untuk berbahasa Jawa setiap hari Jum’at. Penerapan ini juga diperluas dalam berbagai bidang kegiatan, diantaranya penggunaan aksara di bawah tulisan papan nama kantor, jalan, pasar, puskesmas, sekolah, dan pusat pelayanan umum lain. Kota Yogyakarta juga tidak mau ketinggalan dengan mencanangkan “Hari Berbahasa Jawa” sekali sepekan.
Perhatian yang tak kalah serius juga ditunjukkan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah melalui alokasi bantuan keuangan / block grant untuk pembelian buku teks pelajaran bahasa Jawa di seluruh Kota / Kabupaten di Jawa Tengah. Alokasi block grant bahasa Jawa tahun 2008 sebesar 3 milyar untuk segmen SD/MI. Kemudian alokasinya ditingkatkan di tahun 2009 menjadi 10 milyar lebih untuk segmen SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Demikian halnya dengan pengembangan kurikulum yang ada. Hingga saat ini sudah selesai disusun Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran Bahasa Jawa tahun 2008.
Upaya-upaya tersebut tentu saja perlu direspon positif dan didukung secara nyata. Walaupun masih banyak kendala akan tetapi “semangat” untuk melestarikan dan memajukan bahasa Jawa paling tidak kembali memberikan harapan positif.

BAHASA JAWA DALAM PENGAJARAN
    Di tingkat pengambil kebijakan / birokrasi dan para pakar bahasa Jawa telah membuka “kran” yang selebar-lebarnya guna memberikan akses yang lebih luas bagi pengembangan bahasa Jawa. Lantas bagaimana upaya menyikapi “kran” yang sudah terbuka lebar-lebar tersebut di tingkat institusi pendidikan ?
Untuk level Perguruan Tinggi barangkali tidak begitu mengkhawatirkan. Justru sekarang ini telah banyak Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta yang menyelenggarakan / membuka jurusan program studi bahasa dan sastra Jawa. Animo mahasiswa yang mendaftar pun bisa dibilang antusias. Akan tetapi untuk level pendidikan formal di sekolah, baik SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/SMK/MA, gaung pembelajaran bahasa Jawa seakan tidak terdengar.
 Seperti yang telah disinggung diawal, bahwa ketika bahasa Jawa dihadapkan pada situasi formal / pembelajaran maka persoalan akan berbicara lain. Rasanya sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa kondisi pengajaran bahasa Jawa ibarat pepatah “hidup segan mati tak mau”. Bahasa Jawa akhirnya hanya menjadi mata pelajaran komplementer, sekedar ada. Bahkan dalam beberapa kasus, pengantar pelajaran bahasa Jawa justru menggunakan bahasa Indonesia.
     Dikalangan siswa pembelajaran bahasa Jawa dianggap tidak menarik dan membosankan. Bahkan mata pelajaran bahasa Jawa menjadi momok yang menakutkan. Sedangkan di mata pengajar / guru, tidak sedikit pula yang memandang bahwa pelajaran bahasa Jawa / membelajarkan bahasa Jawa sulit. Hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh factor-faktor sbb :

1.      Di dalam bahasa Jawa mengenal adanya tingkat tutur / unggah ungguhing basa / undha usuking basa. Tingkat tutur ini sangat banyak jumlahnya sehingga sulit untuk dipelajari. Hal ini tentu saja berakibat pada lebih rumitnya mengajarkan bahasa Jawa dibandingkan bahasa lain.

2.      Kompetensi guru bahasa Jawa itu sendiri. Artinya adalah bahwa tidak semua  guru bahasa Jawa merupakan guru mapel. Padahal untuk bisa mengajarkan bahasa Jawa diperlukan bekal pengetahuan yang memadai dalam hal kawruh basa, paramasastra, unggah – ungguh basa, kasusastran, aksara Jawa, dsb.

3.      Imbas dari point 1 di atas adalah pembelajaran bahasa Jawa cenderung menekankan pada  latihan-latihan hafalan yang nota bene kurang mengembangkan daya pikir serta mementingkan penerapan struktur dan tatabahasa. Selain itu metode pembelajaran yang digunakan masih kurang bervariasi dan minim improvisasi dalam penggunaan media dan teknik mengajar. Sehingga pembelajaran bahasa Jawa menjadi terkesan monoton, tidak menarik, dan kurang kontekstual.

4.      Minimnya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang dimaksud antara lain ketersediaan laboratorium bahasa / ruang multimedia dan perpustakaan. Terkhusus untuk perpustakaan mestinya kelengkapan sumber referensi serta keterjangkauan dan kemudahan akses wajib terpenuhi.

5.      Terbatasnya jumlah jam tatap muka yang dialokasikan, yakni 2 jam per minggu. Minimnya jumlah jam tatap muka ini mengakibatkan pembelajaran bahasa Jawa menjadi kurang optimal.

6.      Pelajaran bahasa Jawa tidak memiliki nilai tawar yang tinggi karena tidak menentukan syarat kelulusan. Kondisi ini tentu saja menimbulkan anggapan dari siswa dan bahkan guru bahwa pelajaran bahasa Jawa menjadi kurang begitu penting.

Dengan melihat factor-faktor di atas maka sudah sewajarnya apabila pengajaran bahasa Jawa melakukan “reformasi pembelajaran”.  Pembelajaran bahasa Jawa harus mampu mensejajarkan diri dengan pembelajaran mata pelajaran lainya. Guru bahasa Jawa dituntut untuk selalu meng”update” wawasannya mengenai bahasa Jawa dan perkembangannya serta metode-metode pembelajaran yang digunakan melalui bacaan / referensi yang memadai. Guru bahasa Jawa juga harus kreatif dalam memilih materi ajar dan dalam menggunakan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran seperti ; media suara “audio” berupa suara guru atau kaset, media gambar “visual” berupa Koran, majalah, buku, poster dll, serta media suara dan gambar “audio visual” berupa TV, VCD, dll merupakan suatu keharusan. Hal ini semata-mata untuk menjadikan pembelajaran bahasa Jawa agar semakin diminati siswa. Karena bagaimanapun juga pembelajaran bahasa Jawa melalui pendidikan fomal di sekolah merupakan sarana yang paling efektif dan strategis dalam rangka mempertahankan eksistensi bahasa Jawa.

PENUTUP

          Dari pemaparan di atas maka dapat disampaikan bahwa dalam masyarakat Jawa penggunaan bahasa Jawa secara baik dan benar dalam komunikasi sehari-hari cenderung mengalami penurunan pemakaian terutama dikalangan muda. Hal ini memang memprihatinkan, terutama jika dikaitkan dengan makin menurunnya pemakaian unggah – ungguh bahasa Jawa. Karena bagaimanapun juga pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa mencerminkan sopan santun dan budi pekerti seseorang. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dijumpai dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah sebagai tumpuan terakhir bagi terjalinnya kesinambungan akan eksistensi bahasa Jawa dipandang belum menunjukkan hasil yang signifikan.
          Namun demikian, terlepas dari dua kondisi di atas, jumlah pemakai bahasa Jawa di tataran nasional maupun internasional sungguh sangat membanggakan. Walaupun data tersebut belum menggambarkan secara detil, artinya data tersebut hanya menyajikan jumlah secara akumulatif tanpa menyajikan berapa penutur aktif maupun non aktif, namun tetaplah merupakan aset yang sangat berharga. Dalam hal ini campur tangan pemerintah sangat diharapkan demi tetap terjaganya eksistensi bahasa Jawa. Pengaloasian dana khusus untuk kegiatan pelatihan-pelatihan guna peningkatan kualitas pembelajaran serta peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran menjadi sesuatu yang urgent untuk direalisasikan.
          



Daftar Pustaka :
  

Amrih Prasaja, Setya. 2008. Kurikulum Bahasa Jawa SMA/SMK. Sebuah Tinjauan Singkat. Makalah (www.smada-zobo.jimdo.com). 07 November.

Hastuti, Eko. 2009. Pembelajaran Bahasa Jawa dengan Pendekatan Komunikatif. Artikel (Blog). 28 Juni.

Krisyani. 2006. Multi (sub) Dialek Jawa di Jawa Timur dan Pengaruhnya Terhadap Mapel Bahasa Jawa di Sekolah. Makalah (Blog).

Kaswanti Purwo, Bambang. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Menyibak Kurikulum 1984. Jakarta : Kanisius.

Puspitorini, Dwi.____. Bahasa Jawa dan Pengajaran Bahasa. Makalah (dpr@cbn.net.id).

Surono, SU. 2006. Pembelajaran Bahasa Jawa di SD. Artikel (Suara Merdeka) 31 Oktober.

Triluqman BS, Heri. 2009. Permasalahan Pembelajaran Bahasa Jawa. Artikel (Blog). 04 Juni.

Waryo. 2009. Motivasi Memakai Bahasa Jawa Makin Tiada. Artikel (Kompas.com). 02 April.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar